cuma bibir yang berpagut lalu tangan yang saling menggenggam, pelukan yang semakin erat. Ini bukan cerita binal tentang sebuah id, juga bukan sarumini yang sering kita dengar di twitter dengan hashtag. Kalau aku berandai-andai bulan yang sedang mengawasi kita, terlalu picisan saat kita tertawa melihat tivi di depan mata kita bersama. Aku sedang tidak waras dengan apa yang kutulis karena matamu terus menatapku saat aku membuatnya, ini bukan sebuah trailer film. Ini lebih dari sebuah trailer. Kaki kita mungkin tidak memerhatikan, tapi tanpa sengaja dia menjejak pada sebuah rumput dan kita berbaring menatap langit yang gelap lalu menggambar bintang kita sendiri. Aku membenarkan letak leher sweater rajutku yang miring ke kanan, tak sengaja memandangmu lalu aku menyentuh hidungmu dan tertawa. Kau sendiri, cuma menyunggingkan deretan gigimu yang rapi.
kekasih indent
dia yang terkabar dalam suatu masa dalam senyawa udaraku, mengabar dan kuhirup sekian lama dan baru kutemukan baunya di ujung sana. Di tempat yang kusadari biasa dan aku terbiasa. Demi udara yang selalu aku endus, dia sama seperti itu. Hanya saja dia terlampau lama bersarang di tempatnya dan aku terlalu sering berlalu lalang tanpa menyadari yang kurasakan. Demi tanah yang kupijak setiap aku membuka mata dan membuka jendela, dia bersandar di tepian palang pintu di ujung jendelaku namun aku tak pernah tahu. Sempurnalah ketika aku merasa kehilangan hal yang kubiasakan dalam hidupku dan ternyata dia tidak lebih jauh dari pandangan mataku
pesan tak boleh dibalas
Selasa dua puluh tiga agustus dua ribu sepuluh, pukul tujuh lebih sembilan menit yang berharga. Kubuka mata dan mengecek satu pesan tak boleh dibalas seperti biasa. Aku sudah terlalu rindu dengan Tuhan dan tak pernah kuungkapkan melalui doa dan akhirnya aku baru melihat matahari sedang mengawasiku dan membuatku terbangunjam itu juga. Oke, pesan tak terbalas jam tujuh pagi siap mengantarku menyusuri bumi dengan flat shoes berwarna ungu dengan garis putih di tepiannya. Urip Sumoharjo terlalu ramai dan aku memilih berjalan kaki dan mengejar lampu merah sebelum jalan memutar yang lebar membebaskan busnya dan melaju. Anak kecil baru menguap dan sedang digendong ibunya, anak muda yang giat sedang membuka toko kelontong dan mulai mengusir debu dari peraduan tak resminya. Pesan tak terbalas yang membuatku kosong sepanjang hari seperti biasa saat kita berbeda jarak, aku hanya melamun di tengah senja. Aku dulu benci dengan senja dan tak tahu kenapa sekarang lebih memilih untuk menyukainya dan sering menangis saat dia datang. Pesan tak boleh dibalas yang kuabaikan saat aku mulai lelah dengan isinya. Headphone dan pemutar musik yang setia bergelantung pasrah di leherku menemani semua kegelisahanku. Kadang kepalaku hanya bergeleng dan berangguk senang mendengarnya.
Pesan tak boleh dibalas, sekedar intermezzo yang didalamnya ada ungkapan lalu membuat batin serasa bangun pagi.
tentang kita
masih ingat waktu kita menyanyi berdua, kamu kudekap erat dan kita bersenandung lucu. “kamu ikut-ikutan suka lagu ini deh”, katamu. Aku cuma tersenyum dan mengiyakan. Senyummu terlalu manis untuk kulewatkan jadi kubiarkan sajalah. Aku meminta berhenti dan hanya ingin duduk lalu berbicara dengan kamu, tanpa hal apapun. Ada yang menyebabkan permintaanku dikabulkan, ban motormu bocor. Aku cuma bersikap santai sedangkan kamu mengeluh pelan, “yaahhh”.
Kamu menyuruhku duduk di sebuah toko kecil bersama ibu yang kau tanyai tempat tambal ban pukul delapan malam. Aku sangsi, tapi aku menolak jika harus meninggalkanmu dengan alasan agar lebih cepat. Aku tersinggung lho, aku kan mantan anak pramuka dan kuat. hahaha. Kamu menoleh ke belakang dan berpeluh amat banyak, “ kamu capek sayang?”.
“nggak sama sekali”, tersungging senyum di tepian jalan itu.
Lima belas menit kita ngalor ngidul ngetan ngulon nyari itu tambal ban akhirnya ketemu juga. At least…Kita menemukan tempat duduk dan ngobrol dengan tenang. “Apa yang kamu inginkan terwujud kan”.
Aku cuma tertawa lagi.
sourced of story by: Afisa
written by: Eurica Stefany Wijaya
kita
Poster Hello Kitty di kamar, berganti dengan foto keluarga kita. Disitu kau sedang mengecup keningku di hari sakral kita. Roya mengmbilnya dengan sengaja, aku yang memintanya untuk meng- candid semua yang kita lakukan saat resepsi. Untung tak ada yang blur satupun, aku paham dengan Roya dan caranya. Cat biru kini berganti dengan warna krem lembut dengan wallpaper bunga chrysantemum kecil-kecil. Rumah kita memang kecil, minimalis karena bangunan baru. Cinta kita kaya begini nih, haha. Dulu aku sudah pernah bilang kan ya. Ini kan cuma harapan, setidaknya gambaran yang konkret ya seperti ini.
topherchris