Menghadapimu itu seperti menghadapi pak Rusli setiap senin dan selasa, selalu ada saja hal subyektif yang kau lontarkan dan aku harus membalasnya bukan sekenaku. Menghadapimu itu butuh mental baja tahan karat, sehingga aku tahan terpaan matahari maupun hujan. Menghadapimu itu butuh kesabaran ekstra, aku tak mengerti seberapa tekanan celcius jika kamu tahu kartun donal bebek yang sedang marah hingga raksa dalam termometer bisa meletus. Menghadapimu bagaikan sebuah bingkai indah dengan obyek yang membuat tersenyum didalamnya, harus kujaga. Menghadapimu, layaknya sebuah kapal yang terdampar menunggu dikaitkan temali di dermaga. Menghadapimu, sebuah tabir yang apabila aku adalah detektif adalah serba salah. Mengahadapimu nantinya, seperti sebuah rumah yang cukup tapi masih harus direnovasi
Menghadapimu