Kulihat dia dalam siluetnya yang tersenyum dalam rongga bayangan yang diciptakan oleh matahari dibalik pagar biru yang terpajang kaku di depan mataku sembari kupeluk, bayangannya bergerak lentur dan nyaman. Aku mencintainya secara abstrak, melalui pagar dan mengintipnya. Begitu cara yang kupunya. Biarkan saja ditertawakan malam karena apabila dia datang aku tidak bisa melihatmu dengan bayangan lagi. Melihatmu dalam wujud yang nyata hanya membuatku tersiksa.

Eurica Stefany Wijaya