tentang kita

masih ingat waktu kita menyanyi berdua, kamu kudekap erat dan kita bersenandung lucu. “kamu ikut-ikutan suka lagu ini deh”, katamu. Aku cuma tersenyum dan mengiyakan. Senyummu terlalu manis untuk kulewatkan jadi kubiarkan sajalah. Aku meminta berhenti dan hanya ingin duduk lalu berbicara dengan kamu, tanpa hal apapun. Ada yang menyebabkan permintaanku dikabulkan, ban motormu bocor. Aku cuma bersikap santai sedangkan kamu mengeluh pelan, “yaahhh”. 

Kamu menyuruhku duduk di sebuah toko kecil bersama ibu yang kau tanyai tempat tambal ban pukul delapan malam. Aku sangsi, tapi aku menolak jika harus meninggalkanmu dengan alasan agar lebih cepat. Aku tersinggung lho, aku kan mantan anak pramuka dan kuat. hahaha. Kamu menoleh ke belakang dan berpeluh amat banyak, “ kamu capek sayang?”.

“nggak sama sekali”, tersungging senyum di tepian jalan itu. 

Lima belas menit kita ngalor ngidul ngetan ngulon nyari itu tambal ban akhirnya ketemu juga. At least…Kita menemukan tempat duduk dan ngobrol dengan tenang. “Apa yang kamu inginkan terwujud kan”.

Aku cuma tertawa lagi. 

sourced of story by: Afisa 

written by: Eurica Stefany Wijaya