pesan tak boleh dibalas

Selasa dua puluh tiga agustus dua ribu sepuluh, pukul tujuh lebih sembilan menit yang berharga. Kubuka mata dan mengecek satu pesan tak boleh dibalas seperti biasa. Aku sudah terlalu rindu dengan Tuhan dan tak pernah kuungkapkan melalui doa dan akhirnya aku baru melihat matahari sedang mengawasiku dan membuatku terbangunjam itu juga. Oke, pesan tak terbalas jam tujuh pagi siap mengantarku menyusuri bumi dengan flat shoes berwarna ungu dengan garis putih di tepiannya. Urip Sumoharjo terlalu ramai dan aku memilih berjalan kaki dan mengejar lampu merah sebelum jalan memutar yang lebar membebaskan busnya dan melaju. Anak kecil baru menguap dan sedang digendong ibunya, anak muda yang giat sedang membuka toko kelontong dan mulai mengusir debu dari peraduan tak resminya. Pesan tak terbalas yang membuatku kosong sepanjang hari seperti biasa saat kita berbeda jarak, aku hanya melamun di tengah senja. Aku dulu benci dengan senja dan tak tahu kenapa sekarang lebih memilih untuk menyukainya dan sering menangis saat dia datang. Pesan tak boleh dibalas yang kuabaikan saat aku mulai lelah dengan isinya. Headphone dan pemutar musik yang setia bergelantung pasrah di leherku menemani semua kegelisahanku. Kadang kepalaku hanya bergeleng dan berangguk senang mendengarnya. 

Pesan tak boleh dibalas, sekedar intermezzo yang didalamnya ada ungkapan lalu membuat batin serasa bangun pagi.