layang-layang kehidupan

kuambil buluh sebatang

kupotong sama panjang

kuraut dan kutimbang dengan benang

kujadikan layang-layang

bermain..berlari

bermain layang-layang

Syair kecil yang masih saya ingat ketika kelas tiga sekolah dasar pukul sebelas siang dan bernyanyi bersama dengan kawan sekelas saat pelajaran Bahasa Indonesia. Adik kecil saya menyetelnya sambil berdendang riang di depan layar televisi, dia hanya paham bahwa musik itu untuk menari. Maka dia hanya menggoyang-goyangkan pinggangnya sebisanya dan tangan berayun-ayun. Betapa riangnya jadi dia saat nanti ditanya oleh ibu atau bapak guru, “ingin jadi apa kalau sudah besar?”. Manusia yang masih amat muda itu dibentuk dan diberi pendasaran mengapa mereka harus menatap masa depan, karena mereka harus menjadi penerus bangsa. Sungguh, betapa indahnya masih bisa berlari riang dan senang. Berkejaran sana-sini dengan kawan lalu saling bercerita permainan petak umpet yang kemarin sore. Bagaimana mama memarahi saya karena saya bersepeda terlalu jauh lalu akhirnya saya dihukum sampai saya menangis. Sekarang saya si pemegang pengantar hukum dan berbaju bebas rapi, bukan lagi memakai seragam merah putih dan rambut saya dikuncir dua setiap hari. Sekarang saya berdiri dengan tulang punggung saya sendiri. Mau tak mau saya harus berdiri tegap dan bukan lagi anak kecil yang menunduk saat dimarahi,  tapi saya tak pernah sekalipun menunduk kalau dimarahi (maafkan saya ma :D) hehehe. Saya memang orangnya tanpa sadar selalu ngeyelan saat berdebat. Saya, kamu dan kalian yang bersama kaki saya. Saya rangkul dan saya ajak bicara sehari-hari bukan lagi yang puasanya bolong-bolong dan ketahuan oleh guru sedang makan di pojokan kantin mencuri waktu serta berbohong, juga bukan lagi anak sekolah dasar yang waktunya tarawih malah berlarian di lapangan sambil menakut-nakuti teman karena gelap. 

Masa lalu memang indah, tak hanya indah tapi juga suram. Kadang masa lalu bisa menjebak kita untuk selalu mengenangnya, bukan menjadikannya cerminan untuk selalu menatap hidup di depan. Saya juga masih begitu kalau ingat masa SMA. Tidak terpungkiri. Move on!. Everyone have to do a change. Jangan pernah tertangkap dalam satu fase lalu kamu dan kamu terlena dan tinggal dalam masa lalu. Galau, itu istilah kita jaman sekarang. Makna galau semakin menusuk jika kita artikan macam-macam, padahal maknanya tak seburuk itu hanya saja manusianya yang berusaha melebih-lebihkannya. Labil, memang manusia pada seusia saya masih mencla-mencle begitu kata orang jawa bilang atau bisa kita sebut plin plan. Itu juga yang menjadikannya sok tua. Kenapa?. Sewaktu kita galau, itulah yang membuat kita berpikir lebih, lebih dan lebih. Lebih baik galau dan berpikir lebih akan menjadikan kita belajar untuk menyelesaikan masalah daripada kita hanya mengalihkan masalah di belakang kita yang akhirnya hanya akan menjadi beban di kemudian hari yang tertumpuk dan tak terselesaikan. Kita bukan lagi anak kecil, jadi wajar dong kalau pikiran kita sudah lebih dari batas merah di bawah umur 12 tahun. Jangan pernah takut untuk berpikir lebih, terlebih kita juga punya kehidupan yang memang pada dasarnya kita diciptakan untuk berpikir. Sebaliknya lagi jangan pernah menjadikan ke-galauan atau kebingunganmu menjadi monster yang siap menerkam kehidupanmu. Ketakutan hanyalah angan-angan negatif karena kita belum menghadapi apa yang kita takuti, namun ketakutan juga membuat kita belajar agar tidak terlalu pede dan akhirnya meremehkan hal tersebut. Fine, inilah kita yang sekarang tanpa syair kecil di padang ilalang sambil bermain layang-layang. Inilah kita yang harus siap kita hadapi untuk memegang tali kendali dan kita ibaratkan kehidupan kita adalah layang-layang yang kita tarik ulur agar kita tetap bertahan dan mejadi yang terkuat dan hebat. Maha Besar Allah yang telah menciptakan kesempurnaan otak kita untuk berpikir sedemikian rumitnya. Subhanallah yaa :D.

Sekian