Oke, mungkin caraku salah. Rasa khawatirku terlalu besar sehingga kadang kala kamu memanfaatkannya sesuka hati sampai aku marah. Kamu paham dengan teori sebuah termometer?, seperti itulah aku lama kelamaan. Aku memang sabar, tapi sabar itu ada batasnya bukan?. Aku baru paham sekarang, bagaimana orang bisa mengatakannya dengan mudah. Aku kira bukan dengan mudah, lebih tepatnya karena kehabisan kesabaran. Mulut ini sudah lelah, hati ini sudah payah dan tulisanku tak berebentuk naskah. Kurang lebih pasrah.
ttd.
si mulut bawel