sajak galau
Maklum ini menjadi biasa ketika kau yang ku kecualikan, sebuah tanda tanya dan tanda seru dijadikan satu. Sendu. Sama seperti sebuah es yang dicemplungkan ke dalam air panas, sama sekali membingungkan. Hatinya merutuk, perutnya berbunyi krucuk-krucuk. Sedangkan kakinya tertekuk. Ronanya suntuk, terpatuk oleh rasa panekuk yang busuk. Panekuk pagi ini tak seenak kemarin, panekuk kemarin tak seenak kemarin dan kemarin setelah kemarin yang disampaikan. Letupan kecil bersarang di dalam hati kecil yang sedang menggigil. Di tepian danau yang menggenang ikut terkenang sebuah dasar yang pernah kusimpan disana